Kaum
musyrikin Makkah memiliki memiliki pengalaman mumpuni dalam strategi
psywar (biasanya melalui syair), teknik interograsi khusus (yang menimpa
Bilal dan keluarga Yasir), perang tanding, unggul dalam pergerakan unit
(ingat saat musyrikin mengirimkan satuan inteliljen maupun unit reaksi
cepat tatkala memburu kanjeng Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
dan Sayyidina Abu Bakar radliyallahu anhu saat perjalanan hijrah),
hingga kompi kavaleri pemukul cepat (kelak dalam Perang Uhud, satuan
handal ini dipimpin Khalid bin Al-Walid di sayap kanan dan Ikrimah bin
Abu Jahal di sayap kiri, saat keduanya masih belum beriman). Loyalitas
kesukuan juga cukup kuat dengan bertumpu pada kharisma pemimpin suku.
---
Dengan kondisi logistik pas-pasan, transportasi-kavaleri tak mencukupi serta senjata terbatas, Kanjeng Rasulullah SAW diiringi para shahabat kinasih berangkat ke Badar. Lokasi ini berjarak 155 km dari Madinah, 310 km dari Makkah, dan 30 km dari pesisir pantai Laut Merah. Selain berfungsi memotong jalur ekonomi kaum musyrik ke Makkah, pemilihan kawasan sumur Badar memiliki pertimbangan strategis; cadangan air melimpah serta jarak yang lebih dekat dari Madinah. Perang Badar sekaligus menguji loyalitas kaum mukminin terhadap hierarki komando
---
Dengan kondisi logistik pas-pasan, transportasi-kavaleri tak mencukupi serta senjata terbatas, Kanjeng Rasulullah SAW diiringi para shahabat kinasih berangkat ke Badar. Lokasi ini berjarak 155 km dari Madinah, 310 km dari Makkah, dan 30 km dari pesisir pantai Laut Merah. Selain berfungsi memotong jalur ekonomi kaum musyrik ke Makkah, pemilihan kawasan sumur Badar memiliki pertimbangan strategis; cadangan air melimpah serta jarak yang lebih dekat dari Madinah. Perang Badar sekaligus menguji loyalitas kaum mukminin terhadap hierarki komando





